Pandam V Brawijaya Kunjungi PWNU Jatim, Ini Respon dan Pesan-pesan Para Kiai

0 8

JAKARTA – Panglima Kodam V Brawijaya, Mayjen TNI Nurchahyanto, melakukan kunjungan silaturahmi ke PWNU Jawa Timur, Selasa 11 Januari 2022. Rombongan disambut Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar dan Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur KH Anwar Iskandar dan jajarannya.

Pangdam yang baru dilantik tanggal 10 Desember 2021, hadir bersama Inspektur Kodam Brigjen Ari Subekti, Asisten Teritorial Kol Inf Ahmad Basuki. Sedang dari PWNU Jatim, tampak Wakil Ketua Prof A’la Basyir, KH Abdussalam Shohib, KH Fahrurrozi, M Koderi, KH Ahsanul Haq, Ma’ruf Syah, Wakil Sekretaris Hasan Ubaidillah dan H Mujib Syadzili,dll.

“Kami ingin kulo nuwun kepada para kiai di PWNU Jatim. Saya asli Jatim, dibesarkan di Malang. Selama 30 tahun dinas AD baru kali ini di Jawa Timur,” tutur Mayjen TNI Nurchahyanto, yang sebelumnya Asisten Teritorial (Aster) KSAD, menjelaskan melalui rilisnya, Selasa (11/01/2020).

Sementara itu, KH Marzuqi Mustamar menjelaskan, pihaknya selalu berusaha untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dalam menjaga keutuhan NKRI.

“Apalagi dengan Kodam V Brawijaya, karena para kiai pesantren dan NU mempunyai sejarah cukup panjang dalam perjuangan negara,” tutur KH Marzuqi, yang juga Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang.

*Sambutan Wakil Rais Syuriah*

“Di kalangan kiai-kiai sepuh Jawa Timur, dipahami bahwa kata-kata yang berbunyi “Nusantara” merupakan kata kunci bagi keselamatan Indonesia. Bila dijabarkan ‘Nusantara bermakna NU, Santri dan Tentara’. InsyaAllah bila tiga komponen ini bersatu, Indonesia akan kuat dan aman,” tutur KH Anwar Iskandar, mengawali sambutannya.

Kedua, menurut Kiai Anwar Iskandar, kehadiran Panglima Kodam V/Brawijaya seraya diiringi doa agar tugas-tugas di Jawa Timur sukses.

Ketiga, tentang posisi NU, Agama dan Negara.
NU berpandangan, negara merupakan rumah besar seluruh warga bangsa yang terdiri latar belakang yang bermacam-macam. majemuk, plural, tak hanya satu agama melainkan bermacam-macam.

Bagi NU, kebhinekaan adalah keniscayaan yang harus dihargai. Dengan kebhinekaan itu, di mata NU, negara NU yang merupakan negara bangsa, hasil prakarsa atas Pendiri Bangsa, sudah selesai.

“Tidak boleh ada pikiran dan usaha-usaha yang mengubah bentuk negara. Menjadi negara agama, misanya, NU tidak akan menyetujui,” tutur Kiai Anwar Iskadar, mewakili Rais Syuriah PWNU Jatim KH M Anwar Manshur yang berhalangan hadir.

Dasar Negara Pancasila, yang menjadi payung bagi seluruh elemen bangsa menjadi keniscayaan. Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Menurut Kiai Anwar Iskandar, NU akan menentang dengan segala daya dan upaya, adanya rongrongan dari berbagai kekuatan yang ingin mengubah dasar negara. NU tak ingin Indonesia ada yang disebut “kekuatan yang menginginkan politik aliran”.

“Karena kita memahami negara bangsa dan Pancasila sebagai dasar negar, karenanya politiknya adalah politik kebangsaan, bukan politik aliran. Itulah pandangan-pandangan NU, yang bisa disamakan frekuensinya,’ tuturnya.

Tentu prinsip-prinsip tersebut ada yang mengganggu: komunisme, sekularisme, materialisme. Itulah yang menjadi gangguan yang menjadi prinsip-prinsip kebangsaan.

“Warga NU selain memahami wawasan keagamaan yang moderat, dan wawasan kebangsaan yang nasionalis. Membangun kesadaran bersama untuk menyemalatkan NKRI,” kata Kiai Anwar Iskandar.

Meski begitu, Kiai Anwar mengingatkan, ada kelompok-kelompok yang menggerogoti keutuhan negara ada di tengah masyarakat.
Maka, menurutnya, penting sinerji antara Babinsa dengan NU ranting atau pondok pesantren.

“Sinergi bisa dilakukan bukan hanya di Kodam dan PWNU melainkan juga di tingkat Kodim dan PCNU. Kami bukan pintu 24 jam bagi para tentara yang hadir ke kiai-kiai untuk menyamakan visi dan demi keutuhan NRKI,” kata Kiai Anwar Iskandar.

*Tanggapan Panglima Kodam V/Brawijaya*

“Kebijakan pimpinan kami, khususnya AD sudah akan dimulai rekrutmen santri untuk menjadi prajurit.

“Peluang itu sudah dibuka, akan dicoba untuk sosialisasi kepada para santri dan NU guna melaksanakan rekrutmen,” tutur Panglima Kodam V Brawijaya.

“Ini peluang yang luar biasa. Bila prajurit direkrut dari santri, khususnya dari NU, niscaya dijamin komitmennya pada NKRI dan nasionalismenya.

“Kami akan menindaklanjuti dengan menyampaikan Komandan di Dandim hingga di jajaran bawah,” kata Mayjen Nurchahyanto, kelahiran Malang pada 28 Oktober 1964. (*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More